
narapolitik.com – Pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan terhadap pasar saham Indonesia kembali menjadi perhatian. Kondisi tersebut dinilai tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga harga minyak dunia.
Ekonom Prof. Ferry Latuhihin dalam kanal youtube, mengenai kondisi ekonomi terkini menilai tekanan terhadap rupiah perlu dilihat dalam konteks arus modal global. Menurutnya, kebijakan moneter Amerika Serikat dan bank sentral negara-negara lain turut memengaruhi pergerakan modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan Eksternal Jadi Perhatian
Menurut Prof. Ferry, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kebijakan moneter The Fed. Perubahan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar dan kemudian berdampak terhadap arus modal di negara-negara emerging market.
Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi dan memberikan tekanan tambahan terhadap neraca eksternal.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah maupun pasar keuangan domestik.
Prof Ferry Kritik Intervensi BI yang Terus-Menerus
Salah satu sorotan Prof. Ferry adalah kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing.
Ia menilai intervensi yang dilakukan secara terus-menerus memiliki risiko tersendiri. Dalam pandangannya, ketika dolar dijaga agar tidak terlalu mahal melalui intervensi, investor asing justru dapat memperoleh dolar dengan harga relatif lebih murah ketika melakukan penarikan dana dari pasar Indonesia.
Arus keluar tersebut dapat terjadi dari berbagai instrumen, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
Pandangan ini merupakan analisis Prof. Ferry mengenai dampak intervensi terhadap perilaku investor dan tidak berarti setiap pelemahan rupiah secara otomatis disebabkan oleh intervensi BI.
Mengapa Suku Bunga BI Menjadi Persoalan?
Prof. Ferry juga menyoroti keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga.
Menurutnya, kenaikan suku bunga memang dapat menjadi salah satu instrumen untuk merespons tekanan terhadap rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap sektor keuangan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah harga SBN yang banyak dimiliki lembaga keuangan, termasuk perbankan. Ketika suku bunga naik, harga obligasi yang sudah beredar dapat mengalami tekanan.
Karena itu, menurut Prof. Ferry, kenaikan suku bunga secara agresif berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai aset perbankan dan kondisi likuiditas.
Risiko Defisit APBN
Selain nilai tukar dan pasar saham, Prof. Ferry mengingatkan mengenai risiko terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, apabila penerimaan pajak tidak mencapai target sementara belanja tetap tinggi, defisit APBN berpotensi melebar.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena persepsi terhadap kesehatan fiskal menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dan lembaga pemeringkat dalam melihat perekonomian sebuah negara.
Jika tekanan fiskal meningkat secara signifikan, menurut analisis tersebut, terdapat risiko terhadap peringkat investasi Indonesia.
Pesan untuk Pengusaha dan Masyarakat
Dalam menghadapi kondisi ekonomi yang penuh tekanan, Prof. Ferry memberikan sejumlah saran.
Bagi perusahaan, ia menekankan pentingnya menjaga cash flow dan EBITDA. Perusahaan juga disarankan berhati-hati dalam menambah utang kepada perbankan.
Sementara bagi masyarakat, Prof. Ferry menyampaikan pandangan yang lebih defensif. Ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan kepemilikan dolar dan menghindari investasi saham untuk sementara waktu karena melihat prospek pasar yang masih bearish.
Saran tersebut merupakan pandangan dan strategi investasi pribadi dari Prof. Ferry, sehingga keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, kebutuhan dana, serta kondisi pasar masing-masing investor.
Buruh dan Pengusaha Diminta Tidak Berhadap-hadapan
Menariknya, Prof. Ferry juga mengaitkan kondisi ekonomi dengan hubungan antara pengusaha dan pekerja.
Ia menyarankan agar buruh dan pengusaha dapat memiliki kepentingan bersama dalam mendorong penurunan pajak korporasi melalui DPR.
Menurut pandangannya, pajak korporasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan upah pekerja tanpa harus menempatkan kenaikan upah semata-mata sebagai beban tambahan perusahaan.
Dengan demikian, perdebatan mengenai upah buruh, menurut gagasan tersebut, tidak hanya dilihat dari sisi pengusaha atau pekerja, tetapi juga dari kebijakan fiskal pemerintah.
Tekanan Ekonomi yang Perlu Dicermati
Pelemahan rupiah, tekanan pasar saham, kebijakan suku bunga, arus modal, dan risiko APBN merupakan persoalan yang saling berkaitan.
Analisis Prof. Ferry menunjukkan bahwa persoalan nilai tukar tidak bisa hanya dilihat dari kondisi dalam negeri. Pergerakan suku bunga global, harga komoditas, kebijakan fiskal, serta kepercayaan investor juga menjadi bagian penting dari dinamika pasar keuangan Indonesia.
Bagi dunia usaha dan masyarakat, kondisi tersebut pada akhirnya membuat pengelolaan likuiditas dan risiko menjadi semakin penting.










