
narapolitik.com – Di atas kertas, ekonomi Indonesia masih terlihat baik-baik saja. Pertumbuhan ekonomi tetap positif. Inflasi terkendali. Investasi terus berdatangan. Pemerintah pun kerap menyampaikan optimisme bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
Namun di luar ruang konferensi pers dan laporan statistik, cerita yang terdengar justru berbeda. Di pasar-pasar tradisional, pedagang mengeluhkan pembeli yang semakin sedikit. Di pusat perbelanjaan, banyak toko yang memilih tutup lebih awal karena sepinya transaksi. Di sektor industri, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus menghantui pekerja. Sementara di tingkat rumah tangga, masyarakat merasakan satu kenyataan yang sulit dibantah: uang terasa semakin cepat habis.
Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana, tetapi mengganggu: jika ekonomi benar-benar baik, mengapa begitu banyak orang merasa hidup semakin sulit?
Pertumbuhan yang Tidak Terasa
Masalah utama ekonomi Indonesia hari ini mungkin bukan semata-mata soal angka pertumbuhan, melainkan soal distribusi manfaat pertumbuhan itu sendiri.
Ketika pemerintah mengumumkan ekonomi tumbuh lima persen, masyarakat sebenarnya tidak terlalu peduli pada angka tersebut. Yang mereka rasakan adalah apakah penghasilan mereka naik, apakah pekerjaan mereka aman, dan apakah kebutuhan hidup masih terjangkau.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Harga kebutuhan pokok bergerak naik. Biaya pendidikan meningkat. Tarif layanan publik bertambah. Pajak diperluas. Di saat yang sama, pendapatan sebagian besar masyarakat tidak mengalami kenaikan yang sebanding.
Akibatnya, daya beli melemah. Orang yang dulu bisa makan di luar tiga kali seminggu kini hanya sekali. Yang dulu berani membeli barang elektronik secara kredit kini memilih menunda. Yang dulu rutin berbelanja kini lebih banyak menahan uang karena takut menghadapi ketidakpastian.
Ekonomi pada akhirnya bukan soal angka makro. Ekonomi adalah soal rasa aman. Dan hari ini rasa aman itu semakin mahal.
PHK Menjadi Bayang-Bayang
Gelombang PHK yang terjadi di berbagai sektor menunjukkan bahwa dunia usaha juga sedang menghadapi tekanan serius.
Banyak perusahaan mengeluhkan biaya operasional yang meningkat, persaingan yang semakin ketat, hingga konsumsi masyarakat yang melambat. Ketika penjualan turun, langkah paling cepat yang sering diambil adalah mengurangi tenaga kerja.
Korban pertama dari perlambatan ekonomi selalu kelompok pekerja.
Mereka kehilangan pendapatan, kehilangan kepastian masa depan, dan dalam banyak kasus harus bersaing kembali di pasar kerja yang semakin sempit.
Ironisnya, ketika PHK meningkat, pemerintah sering kali merespons dengan narasi bahwa kondisi masih terkendali. Padahal bagi pekerja yang kehilangan sumber nafkah, kata “terkendali” tidak mengurangi cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
Negara Semakin Rajin Memungut
Di tengah tekanan ekonomi masyarakat, negara justru terlihat semakin agresif mencari sumber penerimaan.
Pajak diperluas. Pengawasan transaksi diperketat. Berbagai jenis pungutan bermunculan dengan alasan meningkatkan penerimaan negara.
Secara teori, pajak memang diperlukan untuk membiayai pembangunan. Tidak ada yang membantah hal itu.
Namun persoalannya muncul ketika masyarakat merasa negara lebih cepat datang untuk memungut daripada membantu.
Ketika usaha kecil kesulitan bertahan, mereka berhadapan dengan berbagai kewajiban administratif. Ketika masyarakat mengeluhkan harga kebutuhan pokok, respons yang muncul sering kali berupa penjelasan teknokratis, bukan solusi yang langsung terasa.
Akibatnya muncul kesan bahwa negara semakin kuat menarik dari rakyat, tetapi semakin lemah dalam melindungi daya beli rakyat.
Ojek Online: Simbol “Gig Economy” yang Kehilangan Keadilan
Tidak ada contoh yang lebih nyata mengenai ketimpangan ekonomi digital selain nasib pengemudi ojek online.
Pada awal kemunculannya, platform digital dijual sebagai simbol ekonomi masa depan. Teknologi disebut akan membuka peluang baru, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Namun setelah bertahun-tahun berjalan, banyak mitra pengemudi justru merasa terjebak dalam sistem yang semakin berat sebelah.
Potongan aplikasi yang dianggap besar, bonus yang terus berubah, tarif yang sering dipersoalkan, serta tingginya biaya operasional membuat pendapatan bersih pengemudi terus tergerus.
Di satu sisi, perusahaan teknologi mampu mencatat valuasi fantastis dan terus berkembang. Di sisi lain, banyak pengemudi bekerja lebih lama hanya untuk mendapatkan penghasilan yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Fenomena ini menunjukkan masalah yang lebih besar dalam ekonomi modern: keuntungan terkonsentrasi pada pemilik platform, sementara risiko dan beban terbesar ditanggung pekerja di lapangan.
Mereka yang mengantar makanan di bawah terik matahari dan hujan deras justru menjadi pihak yang paling rentan.
Bahaya Ketika Keluhan Menjadi Terlalu Banyak
Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa krisis tidak selalu dimulai dari angka. Krisis sering dimulai dari hilangnya kepercayaan.
Ketika semakin banyak pedagang mengeluh dagangan sepi, ketika semakin banyak pekerja takut kehilangan pekerjaan, ketika semakin banyak keluarga harus mengencangkan ikat pinggang, maka masalah sebenarnya bukan hanya ekonomi.
Masalahnya adalah psikologi kolektif masyarakat. Jika rakyat kehilangan keyakinan terhadap masa depan, mereka akan menahan konsumsi. Ketika konsumsi turun, usaha melemah. Ketika usaha melemah, PHK meningkat. Ketika PHK meningkat, konsumsi semakin turun.
Siklus ini dapat menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Saatnya Mendengar Suara dari Bawah
Pemerintah tentu memiliki data. Bank sentral memiliki indikator. Para ekonom memiliki model dan proyeksi.
Tetapi ada satu indikator yang sering kali lebih jujur daripada semuanya: suara rakyat di lapangan. Suara pedagang yang tokonya sepi. Suara buruh yang khawatir terkena PHK.
Suara kelas menengah yang mulai kesulitan menabung. Suara pengemudi ojek online yang merasa bekerja semakin keras tetapi memperoleh semakin sedikit. Mungkin ekonomi Indonesia belum berada dalam kondisi krisis. Namun mengabaikan keluhan yang terus membesar juga bukan pilihan yang bijak.
Sebab ketika terlalu banyak orang merasa tidak ikut menikmati pertumbuhan, maka angka-angka ekonomi yang indah pada akhirnya hanya menjadi statistik yang kehilangan makna.
Dan bagi rakyat yang setiap hari bergulat dengan harga kebutuhan, cicilan, pajak, serta ketidakpastian pekerjaan, pertanyaan yang tersisa tetap sama:
Jika ekonomi memang sedang baik-baik saja, mengapa kehidupan terasa semakin berat?
oleh : Bayo Nandymawa | Warga Nusantara







