
narapolitik.com – Nama Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo kembali menjadi perhatian dalam dinamika politik nasional. Dua tokoh yang pernah menjadi rival Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024 itu disebut layak dipertimbangkan untuk bergabung ke dalam pemerintahan.
Wacana tersebut disampaikan aktivis politik senior Syahganda Nainggolan dalam siniar Total Politik yang tayang pada 23 September 2026. Saat itu, Syahganda mendorong Prabowo agar merangkul sejumlah tokoh di luar lingkaran politik pendukungnya, termasuk Anies, Ganjar, dan Mahfud MD.
Pernyataan tersebut diberitakan Warta Ekonomi pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Syahganda menilai pengalaman dan kapasitas para tokoh tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam memperkuat jajaran kabinet.
Ganjar Dinilai Punya Pengalaman Pemerintahan
Dalam pembicaraan mengenai kemungkinan masuknya Ganjar ke kabinet, Syahganda menyinggung pengalaman mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut.
Ia menyebut sejumlah kemungkinan jabatan yang dapat dibicarakan, termasuk posisi Menteri Dalam Negeri. Namun, pernyataan itu merupakan pandangan Syahganda, bukan pengumuman mengenai penunjukan Ganjar oleh Presiden Prabowo.
Ganjar merupakan mantan Gubernur Jawa Tengah yang maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 bersama Mahfud MD. Dalam kontestasi tersebut, pasangan Ganjar-Mahfud bersaing dengan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Setelah pemilihan presiden berakhir, Ganjar tidak masuk dalam jajaran awal Kabinet Merah Putih.
Anies Juga Masuk dalam Usulan Rekonsiliasi Politik
Selain Ganjar, Syahganda turut menyebut Anies Baswedan sebagai tokoh yang dapat dirangkul pemerintah.
Anies merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar pada Pilpres 2024. Pasangan tersebut menjadi salah satu penantang Prabowo-Gibran dalam pemilihan presiden.
Gagasan merangkul Anies dan Ganjar memperlihatkan adanya pandangan di kalangan politik bahwa pemerintahan dapat membuka ruang bagi tokoh-tokoh dari kubu yang berbeda setelah kontestasi pemilu selesai.
Meski demikian, usulan tersebut tidak otomatis berarti Anies bersedia bergabung atau telah menerima tawaran jabatan. Hingga ada pernyataan resmi dari pihak terkait, kemungkinan masuknya Anies ke kabinet tetap harus dipahami sebagai wacana politik.
Prabowo Pernah Direncanakan Merangkul Rival Politik
Gagasan mengajak rival politik masuk pemerintahan sebenarnya bukan hal baru. Pada Februari 2024, ketika proses politik pascapilpres masih berlangsung, Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran pernah menyampaikan keinginan untuk merangkul Anies dan Ganjar serta membuka peluang kerja sama dengan PDI Perjuangan.
Namun, rencana dan pernyataan politik pada masa tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa kedua tokoh itu akan mendapatkan jabatan dalam kabinet saat ini.
Prabowo sendiri telah membentuk Kabinet Merah Putih untuk periode pemerintahan 2024–2029. Dalam perjalanannya, komposisi kabinet mengalami perubahan melalui sejumlah pelantikan dan pergantian pejabat.
Apakah Anies dan Ganjar Akan Masuk Kabinet Merah Putih?
Wacana yang disampaikan Syahganda membuka kembali pembicaraan mengenai kemungkinan rekonsiliasi politik setelah Pilpres 2024. Akan tetapi, keputusan mengenai komposisi kabinet tetap berada di tangan Presiden Prabowo.
Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo telah resmi ditunjuk sebagai menteri hanya berdasarkan usulan tersebut.
Publik perlu membedakan antara dorongan dari tokoh politik, pembicaraan informal antarelite, dan keputusan resmi pemerintah. Ketiganya merupakan tahapan berbeda dalam proses politik.
Jika wacana tersebut berkembang menjadi komunikasi politik yang konkret, perhatian berikutnya akan tertuju pada respons Anies dan Ganjar, sikap partai politik masing-masing, serta kemungkinan posisi yang ditawarkan pemerintah.
Untuk saat ini, isu Anies dan Ganjar masuk kabinet lebih tepat dibaca sebagai usulan agar Prabowo memperluas ruang kolaborasi politik, bukan kepastian mengenai susunan kabinet berikutnya.









