Bahlil Lahadalia Luncurkan 10 Buku Sekaligus, Rekam Jejak, Gagasan, dan Pemikiran untuk Negeri

narapolitik.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meluncurkan 10 buku yang mendokumentasikan perjalanan hidup, pengalaman pemerintahan, serta gagasan strategis yang ia kembangkan selama berkiprah di dunia usaha dan pemerintahan. Peluncuran tersebut digelar di Jakarta pada Jumat (7/8), bertepatan dengan peringatan ulang tahunnya yang ke-50.

Acara bertajuk “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” itu dihadiri Presiden Prabowo Subianto, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, tokoh politik, akademisi, dan pelaku usaha. Kehadiran para pejabat negara menunjukkan besarnya perhatian terhadap peluncuran karya yang memuat perjalanan dan pemikiran salah satu tokoh politik nasional tersebut.

Dalam sambutannya, Bahlil menjelaskan bahwa sebagian buku tersebut sebenarnya telah mulai disusun ketika dirinya masih menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Awalnya ia berencana menerbitkan delapan buku, namun kemudian jumlahnya digenapkan menjadi sepuluh.

Sepuluh buku yang diluncurkan mengangkat berbagai tema yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan karier Bahlil, mulai dari kebijakan hilirisasi sumber daya alam, pengembangan kawasan industri, investasi nasional, penyelesaian proyek investasi yang terhambat, hingga pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Salah satu buku membahas pengalaman pemerintah dalam menghentikan ekspor bijih nikel sebagai bagian dari strategi hilirisasi industri. Tema tersebut menjadi salah satu kebijakan yang paling dikenal selama Bahlil berada di pemerintahan dan terus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Selain itu, terdapat pula pembahasan mengenai pembangunan Kawasan Industri Batang, penyelesaian investasi yang sempat tertunda, hingga pengalaman membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik sebagai bagian dari transformasi ekonomi Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani memberikan apresiasi terhadap peluncuran sepuluh buku sekaligus.

Menurut Rosan, kebanyakan tokoh meluncurkan satu buku dalam satu kesempatan. Namun Bahlil memilih menerbitkan sepuluh buku sekaligus, sesuatu yang dinilainya mencerminkan karakter kepemimpinan yang berani dan memiliki cara berpikir di luar kebiasaan.

Rosan juga berharap kumpulan buku tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi, bekerja keras, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Peluncuran sepuluh buku secara bersamaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penerbitan karya tulis.

Dalam dunia politik modern, buku sering menjadi medium untuk mendokumentasikan rekam jejak, menjelaskan arah pemikiran, sekaligus membangun narasi kepemimpinan. Karya semacam ini memungkinkan seorang tokoh menjelaskan latar belakang berbagai kebijakan yang pernah diambil, sekaligus meninggalkan dokumentasi yang dapat dipelajari publik.

Bagi Bahlil Lahadalia, momentum ini juga memperlihatkan upaya membangun warisan intelektual di samping kiprah sebagai pejabat publik dan pimpinan partai politik. Dengan mengangkat tema hilirisasi, investasi, industrialisasi, dan pembangunan ekonomi, buku-buku tersebut memperkuat citra dirinya sebagai tokoh yang identik dengan agenda transformasi ekonomi nasional.

Namun demikian, nilai dari karya tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana gagasan yang ditawarkan mampu memberikan manfaat bagi pembaca, menjadi referensi dalam perumusan kebijakan, serta mendorong lahirnya diskusi publik yang lebih substantif mengenai pembangunan Indonesia.

Peluncuran 10 buku karya Bahlil Lahadalia menjadi salah satu peristiwa politik dan intelektual yang menarik perhatian pada hari ini. Selain mendokumentasikan perjalanan hidup dan pengalaman pemerintahan, buku-buku tersebut memuat berbagai gagasan mengenai investasi, hilirisasi, pembangunan industri, dan transformasi ekonomi Indonesia.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan diskursus kebijakan yang berbasis pengalaman, karya tersebut diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai pembangunan nasional sekaligus menjadi bahan refleksi bagi generasi pemimpin berikutnya.

Foto: (CNBC Indonesia/Verda Nano)

Related Posts

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

narapolitik.com – Aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi salah satu agenda yang mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen…

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

narapolitik.com – Pada Selasa pagi (20/10/2026), sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan dua spanduk raksasa. Spanduk pertama bertuliskan: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya…

Leave a Reply

You Missed

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

  • By mintz
  • October 27, 2026
  • 0
  • 12 views
Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 19 views
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 21 views
Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

  • By mintz
  • October 18, 2026
  • 0
  • 20 views
Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!

  • By mintz
  • October 17, 2026
  • 0
  • 27 views
Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!