
narapolitik.com – Partai Solidaritas Indonesia atau PSI menjadi salah satu partai politik yang cukup menarik perhatian dalam perjalanan politik Indonesia satu dekade terakhir.
Identik dengan politik anak muda, gaya komunikasi yang lebih santai, serta sejumlah tokoh publik yang pernah bergabung, PSI terus melakukan perubahan untuk memperkuat posisinya di panggung politik nasional.
Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada 2025. PSI mengganti logo lamanya yang identik dengan tangan menggenggam bunga mawar menjadi gajah berkepala merah. Perubahan itu diperkenalkan dalam Kongres PSI di Solo pada 19-20 Juli 2025.
Lantas, apa saja fakta menarik tentang PSI yang mungkin belum banyak diketahui?
1. PSI Berdiri pada 16 November 2014
PSI termasuk partai yang relatif muda jika dibandingkan dengan partai-partai politik besar yang sudah berdiri sejak era Orde Lama maupun Orde Baru.
Berdasarkan Anggaran Dasar PSI yang tercatat dalam dokumen KPU, partai ini didirikan di Jakarta pada 16 November 2014 dan berasaskan Pancasila.
Kehadiran PSI saat itu membawa gagasan untuk menghadirkan warna baru dalam politik Indonesia dengan menonjolkan keterlibatan generasi muda.
2. Grace Natalie Pernah Menjadi Ketua Umum
Nama Grace Natalie menjadi salah satu figur yang sangat lekat dengan sejarah awal PSI.
Sebelum masuk politik, Grace dikenal luas sebagai jurnalis dan presenter televisi. Ia kemudian terjun ke politik dan menjadi salah satu wajah utama PSI.
Pada masa awal berdirinya PSI, Grace dikenal sebagai ketua umum perempuan yang memimpin partai tersebut.
Kehadiran Grace juga memperkuat citra PSI sebagai partai yang mencoba memberi ruang lebih besar kepada generasi muda dan perempuan.
3. PSI Sudah Dua Kali Mengikuti Pemilu Legislatif
PSI pertama kali menjadi peserta Pemilu pada 2019.
Dalam pemilu tersebut, PSI memperoleh 2.650.361 suara atau 1,89 persen suara sah nasional. Perolehan tersebut belum cukup untuk melewati parliamentary threshold sebesar 4 persen sehingga PSI tidak mendapatkan kursi di DPR RI.
Pada Pemilu 2024, suara PSI meningkat menjadi sekitar 4,26 juta suara atau 2,81 persen.
Meski mengalami kenaikan jumlah suara, PSI kembali belum mampu melewati ambang batas parlemen 4 persen dan belum mendapatkan kursi DPR RI.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar PSI menjelang Pemilu 2029.
4. Logo Mawar Kini Berganti Menjadi Gajah
Kalau dulu melihat PSI, publik mungkin langsung teringat pada tangan yang menggenggam bunga mawar.
Namun, simbol tersebut kini sudah berubah.
Dalam Kongres PSI 2025 di Solo, partai resmi memperkenalkan logo baru berupa gajah dengan kepala berwarna merah. Logo tersebut menggantikan simbol mawar yang telah digunakan PSI sejak awal.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menjelaskan bahwa gajah dipilih sebagai simbol kekuatan, kecerdasan, keteguhan, dan solidaritas.
Perubahan logo ini sekaligus menjadi bagian dari upaya PSI melakukan penyegaran dan rebranding partai.
5. Kaesang Terpilih Lagi sebagai Ketua Umum
Nama Kaesang Pangarep menjadi salah satu fakta paling menarik dalam perkembangan PSI.
Putra bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu bergabung dengan PSI pada 2023 dan kemudian menjadi ketua umum.
Dalam Kongres PSI 2025, Kaesang kembali terpilih sebagai ketua umum untuk periode 2025-2030. Ia memperoleh 65,28 persen suara dalam Pemilihan Raya PSI, mengungguli Ronald Aristone Sinaga dan Agus Mulyono Herlambang.
Pemilihan tersebut juga menarik karena PSI menggunakan mekanisme Pemilu Raya dengan pemungutan suara secara daring bagi anggota yang memiliki KTA.
6. PSI Pernah Memiliki Sapaan “Bro” dan “Sis”
Ini salah satu ciri komunikasi PSI yang cukup berbeda.
Di lingkungan PSI, kader dan simpatisan diperkenalkan dengan sapaan “Bro” dan “Sis”.
Menurut PSI Jakarta, penggunaan sapaan tersebut dimaksudkan untuk membuat komunikasi politik terasa lebih cair sekaligus menunjukkan kesetaraan atau posisi yang egaliter.
Gaya komunikasi semacam ini juga menjadi bagian dari upaya PSI mendekatkan diri dengan anak muda.
Dibandingkan gaya komunikasi politik yang cenderung formal, penggunaan “Bro” dan “Sis” menjadi identitas yang cukup mudah dikenali dari PSI.
7. PSI Kini Memakai Gajah, Bukan Mawar
Perubahan simbol PSI bukan hanya soal mengganti gambar.
Logo gajah diperkenalkan sebagai bagian dari transformasi PSI setelah Kongres 2025.
Kaesang menjelaskan bahwa karakter gajah yang ingin ditanamkan kepada kader adalah kemampuan berpikir jernih, bergerak bersama, dan tidak mudah goyah menghadapi tantangan.
Dengan logo baru tersebut, PSI memasuki fase baru sekaligus menghadapi tantangan yang tidak ringan: meningkatkan perolehan suara dan membuktikan apakah perubahan citra dapat diterjemahkan menjadi kekuatan elektoral pada Pemilu 2029.
PSI dan Tantangan Menuju 2029
Perjalanan PSI menunjukkan bahwa partai politik baru membutuhkan waktu untuk membangun basis pemilih.
Dalam dua pemilu terakhir, PSI memang belum berhasil menembus parlemen nasional. Namun, jumlah suaranya meningkat dari sekitar 2,65 juta pada 2019 menjadi sekitar 4,26 juta pada 2024.
Kini, di bawah kepemimpinan Kaesang untuk periode 2025-2030 dan dengan identitas baru bergambar gajah, PSI menatap Pemilu 2029 dengan target yang lebih besar.
Apakah perubahan logo, gaya komunikasi, dan regenerasi kepemimpinan akan mampu membawa PSI masuk ke Senayan?
Jawabannya baru akan terlihat ketika pertarungan elektoral berikutnya benar-benar dimulai











