Peringatan Pedas dari UI Setelah HUT RI: Mengapa Gerakan Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan?

narapolitik.com – Satu hari pasca-kemeriahan Peringatan Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, ruang publik kembali dihangatkan oleh gelombang aksi demo mahasiswa. Dalam diskusi kritis dalam siniar bersama pembawa acara Margi Syarif, akademisi dari Universitas Indonesia, Prof. Suzie Sudarman, membedah secara mendalam alasan mendasar di balik pergerakan tersebut.

Bukan sekadar perayaan rutin tahunan, gerakan aksi ini dinilai sebagai bentuk nyata dari keresahan akar rumput yang kian menghimpit.

Menurut Prof. Suzie, aksi protes yang dilayangkan para mahasiswa adalah bentuk representasi langsung dari suara rakyat. Ia menggambarkan kondisi saat ini seolah-olah terjadi bentuk ‘penjajahan’ baru oleh negara terhadap warganya sendiri.

Mahasiswa bergerak murni atas inisiatif pribadi dan kelompok, mendesak pemerintah untuk segera menghadirkan keadilan. Dua prioritas utama yang disuarakan mencakup minimnya ketersediaan lapangan kerja serta buruknya tata kelola pemerintahan yang kian jauh dari harapan publik.

Percakapan tersebut secara tajam mengkarakterisasi iklim politik nasional saat ini berada dalam situasi yang “sangat abnormal.” Prof. Suzie menduga kuat bahwa roda pemerintahan kini terlalu banyak disetir oleh kepentingan oligarki, kelompok elit global, hingga lunturnya standar etika dalam bernegara.

Ketakutan akan besarnya pengaruh asing juga menjadi sorotan tajam. Diskusi tersebut menyoroti kekhawatiran terhadap dominasi kekuatan global seperti Amerika Serikat, Tiongkok, hingga pengaruh Zionisme yang diduga mengontrol kekayaan sumber daya alam Indonesia melalui kesepakatan-kesepakatan elit di balik layar.

Isu lain yang tidak kalah krusial adalah indikasi pembungkaman sistematis terhadap opini publik yang kritis. Suara-suara masyarakat maupun akademisi diduga sengaja diredam melalui penguasaan media yang didanai oleh kekuatan partai politik.

Tidak hanya itu, keberadaan pasukan siber atau buzzer turut dimanfaatkan untuk menyerang siapa saja yang berani menyuarakan ketidaksetujuan terhadap status quo, sehingga iklim demokrasi kian tertekan.

Menutup pandangannya, Prof. Suzie menekankan pentingnya Indonesia untuk segera memulihkan diri dari “luka-luka” akibat ketidakadilan dan krisis etika kepemimpinan. Masa depan bangsa ini sangat bergantung pada hadirnya regenerasi kepemimpinan baru yang benar-benar menempatkan kesejahteraan dan hak-hak rakyat sebagai prioritas utama.

Related Posts

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

narapolitik.com – Aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi salah satu agenda yang mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen…

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

narapolitik.com – Pada Selasa pagi (20/10/2026), sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan dua spanduk raksasa. Spanduk pertama bertuliskan: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya…

Leave a Reply

You Missed

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

  • By mintz
  • October 27, 2026
  • 0
  • 12 views
Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 19 views
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 21 views
Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

  • By mintz
  • October 18, 2026
  • 0
  • 20 views
Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!

  • By mintz
  • October 17, 2026
  • 0
  • 27 views
Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!