
narapolitik.com – Polemik mengenai hubungan Joko Widodo dan Prabowo Subianto kembali menjadi perbincangan politik nasional. Namun, politisi senior Partai Golkar Ridwan Hisjam memberikan pandangan berbeda mengenai situasi tersebut.
Menurut Ridwan, persoalan yang berkembang saat ini lebih banyak terjadi di antara para pendukung kedua tokoh, bukan antara Jokowi dan Prabowo secara langsung.
Dari Rival Menjadi Mitra Pemerintahan
Jokowi dan Prabowo memiliki sejarah persaingan politik yang panjang. Keduanya pernah berhadapan dalam kontestasi politik sebelum akhirnya berada dalam satu pemerintahan setelah Pemilu 2024.
Perubahan posisi tersebut membuat dinamika antara kedua kelompok pendukung menjadi menarik.
Ridwan menilai perbedaan pandangan yang muncul belakangan tidak otomatis menunjukkan hubungan pribadi kedua tokoh sedang memburuk.
Pertarungan Pendukung Mulai Terlihat
Yang menarik adalah bagaimana sejarah persaingan Jokowi dan Prabowo masih memengaruhi basis pendukung masing-masing.
Kelompok yang sebelumnya berada dalam dua kubu berbeda kini berada dalam lanskap politik yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, setiap pernyataan politik yang menyangkut Jokowi atau Prabowo dengan cepat berkembang menjadi perdebatan antarkelompok pendukung.
Menuju 2029?
Dinamika tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari mulai menghangatnya pembicaraan mengenai politik 2029.
Sejumlah pengamat politik sudah mulai membahas kemungkinan konfigurasi kandidat Pilpres berikutnya. Hendri Satrio, misalnya, menilai salah satu kemungkinan adalah Prabowo memilih pendamping dari internal Gerindra atau tokoh nonpartai.
Dengan demikian, hubungan Jokowi dan Prabowo akan tetap menjadi salah satu isu menarik dalam membaca peta politik nasional.








