7 Fakta Menarik Bung Hatta yang Jarang Diketahui, dari 14 Peti Buku hingga Pilihan Hidup Sederhana

narapolitik.com – Nama Mohammad Hatta atau yang akrab disapa Bung Hatta hampir selalu disebut bersamaan dengan Soekarno. Keduanya menjadi tokoh penting dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Namun, perjalanan hidup Bung Hatta jauh lebih panjang daripada sekadar kisah tentang Proklamasi.

Ia merupakan seorang intelektual, aktivis pergerakan, ekonom, negarawan, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, sekaligus tokoh yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Di balik sosoknya yang dikenal tenang dan sederhana, terdapat sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui.

Berikut tujuh fakta menarik tentang Bung Hatta.

1. Nama asli Bung Hatta bukan Mohammad Hatta

Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902.

Nama yang diberikan orang tuanya adalah Muhammad Athar. Nama Mohammad Hatta kemudian dikenal luas dan melekat dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Hatta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki latar belakang agama yang kuat. Kakeknya dari pihak ayah, Syekh Abdurrahman, dikenal sebagai ulama dan pendiri surau di Batu Hampar, dekat Bukittinggi.

Lingkungan tersebut ikut membentuk karakter Hatta sejak kecil.

2. Bung Hatta sangat mencintai buku

Salah satu fakta paling menarik tentang Bung Hatta adalah kecintaannya terhadap buku.

Hatta dikenal sebagai sosok yang gemar membaca sejak usia muda. Koleksi bukunya terus bertambah ketika ia menempuh pendidikan di Belanda.

Selama sekitar 11 tahun tinggal di Belanda, Hatta mengumpulkan buku dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, hukum, politik, filsafat, sejarah, sosiologi hingga sastra.

Koleksi tersebut bahkan begitu banyak sehingga ketika hendak kembali ke Indonesia, buku-bukunya harus dikemas ke dalam 14 peti berukuran sekitar 1 x 1 x 1 meter.

Bagi Hatta, buku bukan sekadar benda koleksi. Buku menjadi salah satu sumber pengetahuan yang membentuk cara berpikirnya sebagai seorang intelektual dan pejuang kemerdekaan.

3. Aktif berorganisasi sejak remaja

Keterlibatan Bung Hatta dalam pergerakan tidak baru dimulai ketika ia dewasa.

Ketika masih berusia sekitar 15 tahun, Hatta sudah aktif dalam organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang. Ia juga mulai tertarik mengikuti diskusi dan pertemuan politik.

Pengalaman organisasi tersebut kemudian berkembang ketika Hatta melanjutkan pendidikan ke Belanda.

Di negeri tersebut, ia aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia.

Organisasi inilah yang menjadi salah satu ruang penting bagi Hatta untuk menyuarakan gagasan kemerdekaan Indonesia di luar negeri.

4. Pernah ditangkap dan membela diri di pengadilan Belanda

Aktivitas politik Bung Hatta di Belanda membuat pemerintah kolonial memperhatikannya.

Pada 23 September 1927, Hatta ditangkap bersama sejumlah tokoh Perhimpunan Indonesia. Ia kemudian menjalani proses hukum di Belanda.

Dalam persidangan, Hatta menyampaikan pidato pembelaan yang kemudian dikenal dengan judul “Indonesia Vrij” atau “Indonesia Merdeka”.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Hatta tidak hanya dilakukan melalui aktivitas politik di tanah air, tetapi juga melalui diplomasi dan gagasan di Eropa.

Hatta akhirnya dibebaskan pada 22 Maret 1928.

5. Pernah menjalani pengasingan di Boven Digul dan Banda Neira

Perjuangan politik Hatta membuat pemerintah kolonial Belanda mengambil tindakan keras.

Setelah kembali ke Indonesia, Hatta kembali ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digul, Papua, pada 1934.

Ia kemudian dipindahkan ke Banda Neira, Maluku, pada 1936. Di tempat pengasingan tersebut, Hatta tetap menggunakan waktunya untuk membaca, menulis dan memberikan pendidikan.

Di Banda Neira, Hatta bersama Sutan Sjahrir bahkan mengajar anak-anak setempat berbagai pengetahuan, termasuk sejarah dan politik.

Pengasingan yang seharusnya membatasi ruang geraknya justru tidak menghentikan aktivitas intelektual Hatta.

6. Dijuluki Bapak Koperasi Indonesia

Bung Hatta tidak hanya berperan dalam perjuangan kemerdekaan.

Ia juga mempunyai perhatian besar terhadap persoalan ekonomi rakyat.

Gagasan mengenai koperasi menjadi salah satu bagian penting dari pemikiran ekonomi Hatta. Karena jasanya dalam mengembangkan gerakan koperasi, Hatta kemudian dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Gelar tersebut diberikan dalam Kongres Koperasi Indonesia di Bandung pada 17 Juli 1953.

Pemikiran Hatta mengenai koperasi berangkat dari gagasan ekonomi yang menempatkan kerja sama dan kepentingan rakyat sebagai bagian penting dalam kehidupan ekonomi.

Warisan pemikiran tersebut membuat nama Bung Hatta tetap berkaitan erat dengan sejarah koperasi Indonesia hingga sekarang.

7. Memilih hidup sederhana meski pernah menjadi Wakil Presiden

Salah satu sisi Bung Hatta yang paling sering dikenang adalah gaya hidupnya yang sederhana.

Hatta menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia setelah Proklamasi dan mendampingi Soekarno selama lebih dari satu dekade.

Namun, jabatan tinggi tersebut tidak membuatnya dikenal sebagai tokoh yang hidup bermewah-mewahan.

Kesederhanaan Hatta bahkan menjadi bagian penting dari citranya sebagai negarawan. Salah satu kisah yang banyak diceritakan adalah kebiasaannya menjaga penggunaan fasilitas dan keuangan negara secara hati-hati. RRI, misalnya, mencatat kisah tentang Hatta yang pernah mengembalikan dana taktis yang sebenarnya menjadi haknya.

Sikap tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Bung Hatta sering dikenang bukan hanya karena pemikirannya, tetapi juga karena integritas pribadinya.

Bung Hatta dan warisan yang masih dikenang

Bung Hatta wafat di Jakarta pada 14 Maret 1980 dalam usia 77 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

Pemerintah kemudian menetapkan Mohammad Hatta sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2012. Sebelumnya, Hatta bersama Soekarno telah dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator pada 1986.

Warisan Bung Hatta tidak hanya tercatat dalam sejarah Proklamasi.

Ia meninggalkan pemikiran mengenai demokrasi, ekonomi kerakyatan, pendidikan, koperasi dan kehidupan bernegara.

Yang menarik, di tengah kedudukannya sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia, Bung Hatta tetap dikenang sebagai pribadi yang gemar membaca, berpikir kritis dan hidup sederhana.

Itulah yang membuat kisah Bung Hatta tetap menarik untuk dibaca lintas generasi.

Bukan hanya karena ia berdiri di samping Soekarno saat Proklamasi, tetapi karena perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana pengetahuan, organisasi, keberanian dan integritas dapat membentuk seorang negarawan.

Related Posts

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

narapolitik.com – Aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi salah satu agenda yang mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen…

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

narapolitik.com – Pada Selasa pagi (20/10/2026), sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan dua spanduk raksasa. Spanduk pertama bertuliskan: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya…

Leave a Reply

You Missed

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

  • By mintz
  • October 27, 2026
  • 0
  • 12 views
Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 19 views
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 21 views
Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

  • By mintz
  • October 18, 2026
  • 0
  • 20 views
Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!

  • By mintz
  • October 17, 2026
  • 0
  • 27 views
Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!