
narapolitik.com – Bagi sebagian orang, musik hanya menjadi hiburan. Namun bagi Superman Is Dead (SID), musik juga bisa menjadi cara untuk bersuara, mempertanyakan keadaan, dan melawan ketidakadilan.
Band asal Bali ini sejak lama dikenal memiliki karakter musik yang keras, lugas, dan penuh energi. Salah satu sosok yang paling identik dengan sikap tersebut adalah sang drummer, I Gede Ari Astina atau JRX. Lewat musik, pernyataan publik, hingga berbagai sikap kontroversialnya, JRX kerap tampil sebagai figur yang tidak takut menyampaikan kritik.
Dalam perjalanan SID, punk rock bukan hanya soal distorsi gitar, rambut mohawk, atau penampilan di atas panggung. Ada semangat yang lebih besar di baliknya: kebebasan untuk bersuara.
Lagu-lagu SID kerap membawa energi perlawanan terhadap berbagai persoalan sosial. Ketika banyak orang memilih diam, musik menjadi medium untuk menyampaikan keresahan dengan cara yang lebih keras dan langsung.
Bagi JRX, sikap melawan ketidakadilan tampaknya tidak berhenti ketika musik selesai dimainkan. Ia dikenal sebagai sosok yang vokal terhadap isu yang dianggapnya tidak adil. Sikap tersebut tentu tidak selalu diterima semua orang, bahkan beberapa kali memunculkan kontroversi.
Namun, di situlah karakter perlawanan itu terlihat.
Melawan ketidakadilan tidak selalu berarti semua orang harus setuju dengan cara atau pendapat yang disampaikan. JRX sendiri adalah contoh figur publik yang sering berada di tengah perdebatan.
Ada yang melihatnya sebagai sosok pemberani karena berani menyampaikan pendapat. Ada pula yang mengkritik cara dan pilihan kata yang digunakannya.
Tetapi satu hal yang sulit dipisahkan dari sosok JRX adalah keberaniannya untuk tidak selalu mengikuti arus.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi pencitraan, keberanian menyampaikan pendapat meski berisiko menuai kritik menjadi sesuatu yang cukup langka. Tentu saja, kebebasan berbicara juga harus berjalan bersama tanggung jawab. Namun, ruang untuk berbeda pendapat tetap menjadi bagian penting dalam masyarakat yang demokratis.
SID tumbuh dari semangat punk rock yang memang memiliki sejarah panjang sebagai musik perlawanan. Punk sejak awal identik dengan suara kelompok yang merasa tidak didengar.
Semangat itu pula yang membuat musik SID memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Lagu bukan hanya dinikmati karena musiknya yang menghentak, tetapi juga karena ada energi untuk tidak menyerah dan tidak tinggal diam.
Perlawanan terhadap ketidakadilan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama. Ada yang turun ke jalan, ada yang menulis, ada yang berbicara, dan ada pula yang memilih musik sebagai senjatanya.
Bagi SID, panggung bisa menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tersebut.
Ada satu hal penting yang bisa dipetik dari semangat perlawanan: melawan ketidakadilan bukan berarti harus membenci semua orang.
Perlawanan seharusnya dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak benar. Ketika ada ketimpangan, diskriminasi, atau perlakuan yang tidak adil, diam bukan satu-satunya pilihan.
JRX dan SID, dengan segala kontroversi yang mengiringinya, memperlihatkan bahwa seorang musisi bisa memiliki peran lebih dari sekadar menghibur. Mereka bisa menjadi pemantik diskusi, menyuarakan keresahan, bahkan membuat orang lain kembali mempertanyakan keadaan di sekitarnya.
Tidak semua perjuangan menghasilkan tepuk tangan. Tidak semua suara kritis akan disukai. Bahkan, terkadang orang yang bersuara justru harus menghadapi tekanan dan konsekuensi.
Namun, sejarah selalu menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari orang-orang yang berani mengatakan, “Ini tidak adil.”
SID dan JRX mengingatkan bahwa musik dapat menjadi lebih dari sekadar suara. Ia bisa menjadi sikap. Ia bisa menjadi kritik. Dan ketika diperlukan, ia juga bisa menjadi bentuk perlawanan.
Karena pada akhirnya, perlawanan terhadap ketidakadilan tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar.
Kadang, semuanya dimulai dari keberanian untuk tidak diam.








