
narapolitik.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya manusia yang terdampak kabut asap, tetapi juga satwa liar yang kehilangan habitat dan harus berhadapan langsung dengan buruknya kualitas udara.
Kematian orangutan Kalimantan bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi salah satu gambaran paling memilukan dari situasi tersebut. Sempurna ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap karhutla. Ia akhirnya mati meski telah mendapat penanganan medis dari BKSDA Kalimantan Barat dan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI).
Di tengah situasi tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperkuat operasi pengendalian karhutla, mulai dari pemadaman darat dan udara, operasi modifikasi cuaca hingga penegakan hukum terhadap perusahaan yang arealnya terbakar.
Persoalannya, karhutla bukan sekadar bencana lokal. Jika kebakaran berlangsung luas dan terus berulang, asap serta emisi yang dihasilkan dapat bergerak melintasi batas negara dan ikut berinteraksi dengan sistem atmosfer regional Asia Tenggara.
Sempurna Mati Setelah Berjuang Melawan Paparan Asap Karhutla
Kematian Sempurna menjadi alarm serius mengenai dampak karhutla terhadap satwa liar. Orangutan jantan tersebut ditemukan warga pada 30 Agustus 2026 di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Saat ditemukan, kondisinya sudah sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan.
BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI kemudian melakukan evakuasi. Sempurna sempat mendapatkan terapi oksigen dan cairan intravena sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi.
Namun kondisinya terus menurun.
Pada hari yang sama, Sempurna mengalami gangguan pernapasan semakin berat dan akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 15.20 WIB. Hasil nekropsi menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung dan ginjal. Kemenhut menyebut paparan asap diduga berkaitan dengan gangguan paru-paru yang kemudian berkontribusi terhadap kondisi kekurangan oksigen atau hipoksia akut.
Kasus ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika api belum menyentuh kawasan konservasi.
Asapnya sendiri dapat menjadi ancaman.
Bagi orangutan yang hidup di habitat hutan Kalimantan, kebakaran juga berarti hilangnya sumber makanan, tempat berlindung dan jalur pergerakan.
Raja Juli Ambil Langkah: Lima Perusahaan Kena Sanksi
Tekanan terhadap pemerintah meningkat seiring meluasnya karhutla di Kalimantan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam beberapa pekan terakhir turun langsung ke sejumlah lokasi kebakaran. Pemerintah juga memperkuat operasi darat, udara dan modifikasi cuaca.
Pada 4 September 2026, Kementerian Kehutanan mengumumkan sanksi administratif terhadap lima pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat yang konsesinya terdampak kebakaran.
Lima perusahaan tersebut berada di Ketapang dan Sanggau. Salah satu yang tercatat memiliki area terbakar terbesar adalah PT Mahkota Rimba Utama dengan sekitar 1.275,87 hektare area terbakar, disusul PT Hutan Ketapang Industri sekitar 670,76 hektare.
Sanksi yang diumumkan berupa pembekuan izin usaha hingga paksaan untuk pemulihan lingkungan.
Raja Juli juga menegaskan bahwa proses hukum dapat berlanjut ke ranah pidana apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum.
Langkah ini penting karena persoalan karhutla tidak cukup hanya ditangani dengan memadamkan api.
Setelah api padam, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang bertanggung jawab memulihkan kawasan yang rusak?
Bukan Sekadar Water Bombing, Ini Strategi Raja Juli
Kemenhut menyiapkan lima pendekatan utama menghadapi puncak risiko karhutla.
Pertama, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan BNPB untuk memanfaatkan awan potensial dan meningkatkan peluang hujan.
Kedua, water bombing menggunakan puluhan armada udara untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani dari darat.
Ketiga, penguatan pasukan darat melalui Manggala Agni, TNI, Polri dan masyarakat.
Keempat, penegakan hukum terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Kelima, edukasi dan pelibatan masyarakat untuk mencegah pembakaran lahan.
Kemenhut juga menyebut terdapat 89 tersangka yang ditangani kepolisian serta puluhan kasus pidana dan evaluasi izin usaha.
Sementara itu, operasi pengendalian karhutla diperkuat dengan ribuan personel. Kemenhut sebelumnya menyebut pengerahan 12.880 personel gabungan, relawan dan masyarakat dalam operasi pengendalian karhutla di Kalimantan.
Pada awal September, Kemenhut dan BMKG juga memperkuat operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Jawa Timur.
Artinya, pemerintah kini tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul, tetapi mencoba memotong rantai kebakaran melalui pencegahan, pemantauan, rekayasa cuaca dan penegakan hukum.
Masalah Besarnya: September Justru Menjadi Fase Kritis
Ada alasan mengapa pemerintah meningkatkan kewaspadaan.
BMKG memprediksi El Niño 2026 dapat bertahan hingga awal kuartal pertama 2027, dengan intensitas yang berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan di Indonesia.
BMKG juga memperingatkan potensi IOD positif pada September-Desember 2026 yang dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Kemenhut sendiri menyebut September sebagai fase krusial pengendalian karhutla karena fenomena El Niño diperkirakan mencapai puncaknya.
Inilah yang membuat persoalan karhutla 2026 berbeda dari kebakaran biasa.
Ketika hutan dan lahan semakin kering, satu titik api dapat lebih mudah berkembang menjadi kebakaran besar.
Dan ketika kebakaran terjadi di lahan gambut, persoalannya menjadi jauh lebih rumit.
Raja Juli sebelumnya mengingatkan bahwa lahan gambut dapat tetap mengeluarkan asap meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat. Karena itu, pemadaman harus dilakukan secara detail agar api tidak kembali muncul dari bawah permukaan. (detikcom)
Lalu, Apa Dampaknya terhadap Cuaca Asia Pasifik?
Di sinilah persoalan karhutla menjadi lebih besar dari sekadar isu kehutanan Indonesia.
Ada satu hal yang perlu diluruskan: karhutla Indonesia tidak secara sederhana dapat disebut sebagai penyebab perubahan cuaca Asia Pasifik.
Sistem cuaca regional jauh lebih kompleks dan dipengaruhi fenomena besar seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), monsun, suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer.
Justru dalam banyak kasus, hubungan yang terlihat adalah El Niño dan kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran, kemudian kebakaran menghasilkan aerosol dan gas rumah kaca yang kembali memengaruhi atmosfer.
Dengan kata lain, terdapat hubungan timbal balik.
Penelitian mengenai Asia Tenggara menunjukkan bahwa pola iklim regional dan ENSO dapat memengaruhi emisi serta transportasi aerosol dari kebakaran. Pada tahun El Niño, peningkatan aktivitas kebakaran dapat disertai perubahan pola angin yang memperkuat transportasi aerosol.
Asap Bisa Mengubah Radiasi, Awan dan Hujan
Partikel asap dari kebakaran bukan sekadar membuat langit menjadi kelabu.
Aerosol dapat menyerap atau memantulkan radiasi matahari. Dalam kondisi tertentu, partikel tersebut juga dapat berinteraksi dengan awan dan memengaruhi proses pembentukan hujan.
Kajian terbaru mengenai Asia Tenggara menunjukkan bahwa aerosol dari pembakaran biomassa dapat mengubah pemanasan atmosfer dan pola curah hujan secara regional. Dampaknya tidak selalu sama: pada kondisi tertentu aerosol dapat menekan hujan, tetapi dalam kondisi atmosfer tertentu justru dapat memodifikasi proses pembentukan hujan.
Karena itu, terlalu sederhana jika dikatakan:
“Karhutla menyebabkan Asia Pasifik menjadi lebih panas atau lebih dingin.”
Yang lebih tepat adalah bahwa lonjakan aerosol dari karhutla dapat mengganggu keseimbangan radiasi dan memengaruhi interaksi atmosfer, awan serta hujan pada skala regional.
Efeknya sangat bergantung pada lokasi kebakaran, ketinggian asap, kondisi atmosfer dan arah angin.
Risiko Terbesarnya Justru Efek Berantai
Jika karhutla terus berlangsung dalam skala besar, dampaknya bisa membentuk rantai persoalan.
Hutan terbakar → emisi meningkat → kualitas udara memburuk → aerosol menyebar → radiasi dan pembentukan awan terpengaruh → pola hujan dapat berubah secara lokal-regional → ekosistem semakin tertekan.
Di sisi lain, hutan yang rusak kehilangan kemampuan menyimpan karbon dan mengatur siklus air.
Inilah alasan mengapa kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian negara-negara Asia Tenggara.
Asap dapat terbawa angin lintas batas. Dalam kondisi tertentu, wilayah Malaysia, Singapura dan kawasan Asia Tenggara lainnya dapat ikut mengalami penurunan kualitas udara.
Reuters melaporkan bahwa kebakaran Indonesia pada 2026 telah menghasilkan lonjakan emisi karbon dan memperburuk persoalan kabut asap regional.
Orangutan Sempurna Seharusnya Tidak Berhenti sebagai Berita Kematian
Kematian Sempurna memiliki makna lebih besar daripada sekadar satu satwa yang gagal diselamatkan.
Ia menjadi indikator bahwa kerusakan akibat karhutla telah memasuki rantai ekosistem.
Orangutan membutuhkan hutan yang sehat untuk bertahan hidup. Ketika hutan terbakar, mereka kehilangan makanan dan habitat. Ketika asap semakin pekat, sistem pernapasan mereka ikut terancam.
Karena itu, keberhasilan pemerintah menangani karhutla tidak semestinya hanya diukur dari berapa hektare api berhasil dipadamkan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kebakaran bisa dicegah agar tidak berulang, apakah kawasan yang rusak dipulihkan, apakah habitat satwa terlindungi, dan apakah masyarakat tidak lagi menghadapi siklus kabut asap yang sama setiap musim kemarau.
Tantangan Raja Juli Bukan Hanya Memadamkan Api
Raja Juli kini menghadapi pekerjaan yang jauh lebih besar. Pemadaman api adalah pekerjaan darurat. Namun, setelah api padam, pekerjaan sebenarnya belum selesai.
Pemerintah harus memastikan kawasan gambut tetap basah, melakukan restorasi habitat, memperketat pengawasan konsesi, memperkuat sistem deteksi dini dan memastikan sanksi terhadap pelanggar benar-benar memberikan efek jera.
Pada saat yang sama, Indonesia perlu memperkuat kerja sama regional karena asap tidak mengenal batas administratif.
Jika karhutla kembali berulang setiap kali El Niño datang, maka persoalannya bukan lagi sekadar bencana musiman. Ia dapat berubah menjadi persoalan ketahanan lingkungan dan atmosfer kawasan Asia Tenggara.
Penutup
Kematian Sempurna menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak selalu terlihat dalam bentuk kobaran api. Ada hutan yang hilang, satwa yang kehilangan habitat, manusia yang menghirup asap, karbon yang dilepaskan ke atmosfer, serta partikel yang dapat bergerak mengikuti sirkulasi angin.
Langkah Raja Juli Antoni melalui pemadaman, operasi modifikasi cuaca, pengerahan personel dan penegakan hukum menjadi respons penting dalam kondisi darurat saat ini.
Namun, ujian sesungguhnya adalah apa yang dilakukan setelah musim kebakaran berakhir. Sebab jika hutan kembali terbakar pada musim kering berikutnya, Indonesia bukan hanya mengulang masalah yang sama. Negara ini juga berisiko terus menambah tekanan terhadap keseimbangan ekosistem dan atmosfer regional yang menghubungkan Indonesia dengan Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik.









