
narapolitik.com – Nama Guruh Soekarnoputra tidak hanya tercatat dalam perjalanan politik Indonesia. Jauh sebelum aktif di parlemen, putra bungsu Soekarno dan Fatmawati tersebut telah membangun identitas sebagai seniman melalui musik, tari dan pertunjukan.
Guruh meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun. Kepergiannya sekaligus mengakhiri perjalanan panjang seorang seniman yang selama puluhan tahun aktif memperkenalkan unsur kebudayaan Nusantara melalui berbagai bentuk pertunjukan.
Swara Mahardhika dan Eksplorasi Seni Tradisional
Salah satu bagian penting dalam perjalanan seni Guruh adalah Swara Mahardhika. Kelompok tersebut menjadi ruang bagi Guruh untuk mengembangkan pertunjukan yang memadukan berbagai unsur seni tradisional Indonesia dengan pendekatan pertunjukan modern.
Dalam perjalanannya, Guruh juga mendirikan GSP Production. Sementara di dunia musik, namanya terkait dengan proyek Guruh Gipsy, yang mempertemukan unsur musik modern dengan elemen musik Nusantara.
Pendekatan Guruh terhadap seni membuat musik dan tari tradisional tidak hanya hadir dalam bentuk pertunjukan konvensional. Ia mencoba mengemas unsur tersebut menjadi pertunjukan panggung yang lebih luas dan spektakuler.
Musik hingga Film
Jejak Guruh juga dapat ditemukan dalam dunia musik dan perfilman. Ia tercatat terlibat sebagai penata musik dalam sejumlah film, antara lain Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Ali Topan Anak Jalanan dan Sembilan Wali.
Sementara itu, beberapa karya musik dan pertunjukan Guruh kemudian menjadi bagian dari ingatan publik terhadap perkembangan musik dan seni Indonesia.
Perhatiannya terhadap musik tradisional juga terlihat dari pandangannya mengenai keroncong. Dalam wawancara pada 2018, Guruh pernah menyampaikan keprihatinannya karena generasi muda dinilai semakin kurang mengenal musik keroncong.
Tidak Berhenti Berkarya
Menariknya, aktivitas kebudayaan Guruh tidak berhenti ketika ia memasuki dunia politik.
Dalam perjalanan berikutnya, ia tetap terlibat dalam kegiatan seni dan kebudayaan. Guruh juga pernah memberikan perhatian terhadap pelestarian tari tradisional, termasuk memberikan apresiasi kepada sanggar tari yang mengembangkan kesenian Bali.
Di sinilah perjalanan Guruh menjadi menarik. Politik menjadi salah satu bagian kehidupannya, tetapi seni dan kebudayaan tetap menjadi identitas yang kuat.
Setelah ia wafat, karya-karya tersebut menjadi bagian penting dari warisan yang ditinggalkan. Bukan hanya berupa lagu atau pertunjukan, tetapi juga gagasan tentang bagaimana kebudayaan Indonesia dapat terus diperkenalkan melalui medium yang mengikuti perkembangan zaman.
Guruh Soekarnoputra kini telah meninggalkan panggung. Namun, karya dan gagasan kebudayaannya masih dapat ditemukan dalam berbagai catatan musik, pertunjukan serta perjalanan seni Indonesia.









