Iwa K Bicara Politik Lewat DOAMAT: Indonesia Disebut Seperti Sirkus, ‘Tikus Got’ Masih Relevan

narapolitik.com – Lagu bisa menjadi lebih dari sekadar hiburan. Bagi ikon hip-hop Indonesia, Iwa K, musik juga dapat menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan terhadap realitas sosial dan politik yang sedang terjadi.

Hal itu mengemuka dalam perbincangannya bersama Feri Amsari di kanal OWRITE and Feri Amsari Official, ketika keduanya membahas lagu terbaru Iwa K berjudul DOAMAT.

Dalam percakapan tersebut, Iwa K berbicara tentang kegelisahan yang menjadi salah satu bahan bakar proses kreatifnya. Kondisi politik saat ini, menurutnya, menghadirkan banyak hal yang membuatnya terusik. Ia bahkan menggambarkan situasinya seperti sebuah “sirkus”.

Bagi Iwa K, keresahan terhadap keadaan bukan sesuatu yang harus dipendam. Perasaan itu justru dapat diterjemahkan menjadi karya.

Lewat DOAMAT, kegelisahan tersebut mendapat ruang untuk berbicara. Musik menjadi cara untuk menyampaikan pandangan, mempertanyakan keadaan, sekaligus mengajak pendengar melihat realitas di sekitarnya dengan lebih kritis.

Perbincangan Iwa K dan Feri Amsari kemudian mengarah pada persoalan yang lebih luas, terutama tentang kondisi demokrasi dan berbagai fenomena yang dinilai mengkhawatirkan.

Salah satu istilah yang mencuat adalah “anak haram konstitusi”. Istilah tersebut dibahas dalam konteks kritik terhadap erosi nilai-nilai demokrasi serta praktik-praktik yang dianggap menjauh dari semangat konstitusi.

Pembahasan juga membawa keduanya kembali pada salah satu lagu klasik Iwa K, Tikus Got.

Lagu yang lahir pada era 1990-an itu dikenal sebagai karya yang menyindir keserakahan dan korupsi. Menariknya, pesan lagu tersebut dinilai masih terasa relevan hingga sekarang.

Masalahnya, korupsi bukan sekadar cerita lama yang sudah selesai. Dalam perbincangan itu, muncul refleksi bahwa praktik korupsi justru terus bertahan dan mengalami perubahan bentuk.

Jika dahulu banyak praktik dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini muncul kekhawatiran bahwa berbagai kepentingan dapat bergerak lebih terbuka, bahkan seolah memiliki ruang dalam kerangka regulasi.

Di titik inilah kritik dalam Tikus Got terasa seperti menemukan konteks baru.

Lagu lama, tetapi persoalannya belum benar-benar menjadi masa lalu.

Di tengah gambaran realitas yang gelap, Iwa K juga menekankan satu hal penting: empati.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Kegelisahan terhadap keadaan seharusnya tidak berubah menjadi sikap apatis.

Warga negara perlu tetap waspada, kritis, dan memiliki empati agar tidak sekadar menjalani kehidupan tanpa mempertanyakan keadaan.

Pesan itu menjadi semakin penting ketika derasnya informasi, konflik kepentingan, dan dinamika politik berpotensi membuat masyarakat lelah. Ketika kelelahan berubah menjadi ketidakpedulian, kemampuan untuk merasakan persoalan orang lain juga bisa ikut memudar.

Karena itulah, peringatan agar tidak menjadi “generasi zombie” dapat dibaca sebagai ajakan untuk tetap sadar.

Sadar terhadap keadaan. Sadar terhadap perubahan. Dan sadar bahwa kebebasan serta demokrasi tidak dapat dijaga oleh masyarakat yang memilih berhenti peduli.

Mengingat Kembali Makna Kebebasan Lewat “Bebas”

Pada bagian akhir perbincangan, Iwa K dan Feri Amsari juga mengenang lagu ikonik Bebas.

Tema kebebasan kemudian menjadi bahan refleksi. Kebebasan memang penting, tetapi bukan berarti tanpa batas.

Sebab kebebasan yang sepenuhnya dilepaskan dari tanggung jawab justru berpotensi kehilangan maknanya. Ada ruang bagi setiap orang untuk berpikir, berbicara, dan berekspresi, tetapi tetap ada batas yang berkaitan dengan hak, keselamatan, dan kehidupan orang lain.

Related Posts

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

narapolitik.com – Aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi salah satu agenda yang mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen…

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

narapolitik.com – Pada Selasa pagi (20/10/2026), sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan dua spanduk raksasa. Spanduk pertama bertuliskan: “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya…

Leave a Reply

You Missed

Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

  • By mintz
  • October 27, 2026
  • 0
  • 12 views
Jelang Demo 28 Oktober di Bundaran HI, Ini 5 Tuntutan Mahasiswa dan Respons Polisi

Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 19 views
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI

Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

  • By mintz
  • October 20, 2026
  • 0
  • 21 views
Karhutla Membara, Greenpeace Turun ke HI!

Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

  • By mintz
  • October 18, 2026
  • 0
  • 20 views
Anak di Bawah 16 Tahun, Akses Medsos Dibatasi!

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

UNAIR dan DPD RI Buka Mata Mahasiswa soal Politik

Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!

  • By mintz
  • October 17, 2026
  • 0
  • 27 views
Rocky Gerung Masuk Istana, Sebut Ini!