google-site-verification=x07vjbomxlsBvPbIbOjcR7vfc5Jw4mGyIscP06Am1sQ

Tidak Sesuai Semangat Reformasi, Pilkada Ciptakan Dinasti Politik Bagi Kelompok Tertentu

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang ditujukan untuk mendapatkan sosok pemimpin berkompeten dan memberikan pemerataan pembangunan malah tidak sesuai semangat reformasi.

Direktur Eksekutif Institut Kajian Pertahanan dan Intelijen Indonesia Fauka Noor Farid mengatakan pelaksanaan Pilkada yang ada sekarang justru lebih banyak merugikan masyarakat.

Dalam hal pelaksanaan, Pilkada untuk memilih Gubernur, Wali Kota, dan Bupati justru diselewengkan untuk menciptakan politik dinasti bagi satu kelompok saja.

“Hari ini ayahnya besok anaknya, atau istrinya. Banyak ada celah dalam pelaksanaan Pilkada ini yang justru menciptakan politik dinasti,” kata Fauka, lewat keterangan, Jumat (19/7/2024).

Bukan tanpa sebab, ketika Pilkada berlangsung maka pihak yang paling diuntungkan adalah pemangku jabatan sebelumnya yang mengetahui seluk beluk pemerintahan.

Sedari proses perizinan melakukan kampanye pada aset pemerintah daerah yang dimudahkan, domplengan popularitas agar dikenal masyarakat, hingga pengaruh relasi kuasa.

“Hal yang lebih buruknya pilihan yang dipaksakan ke masyarakat itu sosok tidak kompeten. Karena bisa maju di Pilkada lewat kekuatan politik dinasti, bukan karena dia cakap,” ujarnya Eks Anggota Tim Mawar Kopassus itu.

Selain dinasti politik, Fauka menuturkan pelaksanaan Pilkada juga lebih berisiko membuka peluang korupsi karena para kandidat harus mempunyai dana yang tidak sedikit untuk mengikuti kontestasi.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berupaya mencari cara mengembalikan modal lewat korupsi ketika sudah menjabat.

“Belum lagi risiko kontrak politik kalau ada cukong yang mendanai kampanye kepala daerah. Kepala daerah terpilih seperti itu hanya mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan cukong,” tuturnya.

Pelaksanaan Pilkada juga dirasa membebani anggaran belanja negara (APBN) yang harusnya dapat digunakan untuk membangun daerah menjadi terbuang tanpa hasil.

“Tidak ada acuan kepala daerah untuk menjalankan program. Lain bila kepala daerah ditentukan pemerintah pusat. Dapat dijaring sosok-sosok yang tepat dan memiliki program kerja pasti,” lanjut dia.

Atas hal tersebut Pilkada dan otonomi daerah dianggap perlu dievaluasi dimana kewenangan menetapkan pemimpin dan kebijakan bisa diambil pemerintah pusat lewat satu mekanisme.

“Ini bukan soal kembali ke Orde Baru, tapi soal kepentingan lebih besar yang mau kita capai. Pilkada dan otonomi daerah ini justru menghambat pemerataan dan program pemerintah,” sambung dia.

sumber

Gikunda Indrajaya

Related Posts

10 Kepala Daerah dengan Popularitas Tertinggi 2026, Siapa Paling Berpengaruh?

narapolitik.com – Peta politik daerah mulai berubah. Setelah gelombang Pilkada melahirkan wajah-wajah baru di berbagai provinsi, sejumlah kepala daerah berhasil mencuri perhatian publik dan menjadi tokoh yang paling sering dibicarakan…

Mengapa Prabowo Membangun 30 Pabrik Bioetanol? Ambisi Besar Menuju Kemandirian Energi atau Taruhan Ekonomi Baru?

Ambisi Baru Pemerintah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan ambisi besar di sektor energi. Kali ini, fokusnya adalah pembangunan sedikitnya 30 pabrik bioetanol yang diharapkan menjadi salah satu pilar menuju…

Leave a Reply

You Missed

10 Kepala Daerah dengan Popularitas Tertinggi 2026, Siapa Paling Berpengaruh?

  • By mintz
  • July 17, 2026
  • 6 views
10 Kepala Daerah dengan Popularitas Tertinggi 2026, Siapa Paling Berpengaruh?

Mengapa Prabowo Membangun 30 Pabrik Bioetanol? Ambisi Besar Menuju Kemandirian Energi atau Taruhan Ekonomi Baru?

  • By mintz
  • July 17, 2026
  • 1 views
Mengapa Prabowo Membangun 30 Pabrik Bioetanol? Ambisi Besar Menuju Kemandirian Energi atau Taruhan Ekonomi Baru?

Siapa yang Paling Dirugikan Jika Biaya Politik Pilkada Dibatasi? Membaca Peta Kepentingan di Balik Usulan Mendagri

  • By mintz
  • July 17, 2026
  • 13 views
Siapa yang Paling Dirugikan Jika Biaya Politik Pilkada Dibatasi? Membaca Peta Kepentingan di Balik Usulan Mendagri

Penanganan Kasus Korupsi Dipastikan Tetap Berjalan Meski Jampidsus Mundur

  • By mintz
  • July 12, 2026
  • 13 views
Penanganan Kasus Korupsi Dipastikan Tetap Berjalan Meski Jampidsus Mundur

Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Penegakan Hukum, Dukungan terhadap Prabowo Menguat

  • By mintz
  • July 12, 2026
  • 29 views
Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Penegakan Hukum, Dukungan terhadap Prabowo Menguat

Tiyo Ardianto: Oposisi Baru atau Sekadar Variasi Lama dalam Politik Indonesia?

  • By mintz
  • June 18, 2026
  • 25 views
Tiyo Ardianto: Oposisi Baru atau Sekadar Variasi Lama dalam Politik Indonesia?