
narapolitik.com – Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok Nomor Urut 1, Imam Budi Hartono dan Ririn Farabi Arafiq, membantah keras hasil riset Setara Institute yang menempatkan Kota Depok sebagai salah satu kota paling intoleran di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam debat ketiga Pilkada Depok yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Global University (JGU), Kecamatan Sukmajaya, Depok.
Ririn Farabi menegaskan bahwa Kota Depok adalah kota yang toleran dan inklusif. Ia juga memaparkan sejumlah program pemerintah yang disebutnya sebagai bentuk dukungan terhadap toleransi, seperti pemberian insentif bagi pembimbing rohani dari berbagai agama.
Senada dengan Ririn, Imam Budi Hartono menyoroti komitmen pemerintah dalam menjaga keberagaman, mulai dari dukungan kesejahteraan bagi tokoh agama hingga bantuan untuk perbaikan rumah ibadah. Imam, yang juga Wakil Wali Kota Depok non-aktif, menekankan bahwa pemerintah tidak pernah melarang aktivitas beribadah kelompok masyarakat manapun. Bahkan, proses perizinan mendirikan rumah ibadah di Depok dipermudah dengan pembebasan biaya IMB.
Data Pemerintah Kontra dengan Riset Setara Institute
Mengutip data Kementerian Agama, Imam menyatakan bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kota Depok mencapai 73,4 persen, angka yang cukup tinggi dibandingkan kota-kota lain.
Ia juga menambahkan bahwa tokoh-tokoh agama di Depok, termasuk Ketua PGI Kota Depok Pendeta Rolan dan Pendeta Roki, mengakui bahwa Depok merupakan kota yang toleran.
Respons terhadap Riset Setara Institute
Imam dan Ririn secara tegas mempertanyakan hasil riset Setara Institute yang sebelumnya menempatkan Depok sebagai kota paling intoleran tiga kali berturut-turut, termasuk dalam laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2022.
Pasangan Imam-Ririn juga berkomitmen untuk terus memajukan Depok sebagai kota yang ramah, toleran, dan mencerminkan semangat kebinekaan Indonesia. “Kita harus mencintai keberagaman dan kedamaian,” kata Imam.










